[Dari arkib] Bebaskah?

[Post 3 September 2013]

Diterbitkan semula bersempena hari kemerdekaan ke-59

————–

Bismillahirrahmanirrahim

Pada suatu masa itu, lebih 1400 tahun lalu, seorang wanita, hamba. Diikat di hadapan anak terchenta. Tangan dan kaki ditarik-tarik dan diregangkan jauh-jauh. Disuruh meninggalkan agama barunya. Disuruh menghina tuhannya dengan mengakui,”Allah bukan tuhan! Tetapi Hubal adalah tuhan, atau Manat adalah Tuhan, atau ‘Uzza, atau  Latta adalah tuhan.” Tidak! Sekali-kali tidak! Tiada tuhan selain Allah. Hanya Allah! Maka syahidlah dia, disaksikan anaknya.

Pada suatu masa itu, lebih 1400 tahun lalu, seorang lelaki, hamba. Dikeringkan di tengah padang pasir, di bawah terik. Disebat. Berkali-kali. Dicerca. Berkali-kali. Disuruh meninggalkan agama barunya. Disuruh menghina tuhannya dengan mengakui ada tuhan selainNya. Namun, sekalipon batu panas lagi berat menghempap dada, lidah beliau tak pernah kelu, untuk berkata “Ahad! Ahad!” Tiada tuhan selain Allah. Allahu Ahad!

Pada suatu masa itu, lebih 1400 tahun kemudian. Seorang gadis di tanah yang merdeka, merenung-renung stok pakaiannya. Sudah lama terbeli t-shirt itu, sudah berbulan usia tudung ‘baru’ itu. Namun dirinya tidak sanggup memakainya, walau hatinya meronta-ronta mahu memberikan yang lebih baik untuk tuhannya. Ya, dia tahu pakaiannya tidak sempurna, sebab itu dia membeli t-shirt dan tudung itu, yang lebih labuh dari pakaian biasanya. Tetapi oh! Tak sanggup rasanya, apa yang mereka akan kata, samakah layanan mereka jika tiba-tiba dia berpakaian sebegitu? Ah. Nantilah.  Bam! Pintu almari ditutup. Alangkah! Jika ia mampu berkata-kata, mungkin pedas juga telinga si gadis itu mendengarnya! Alangkah!

_ _ _ _ _ _ _

Ya, mereka hamba! Hamba sahaya. Buat kerja sampai separuh nyawa, tapi tak diberi upah. Diberi makan pon mujur. Tido tidak di katil, tapi mungkin di bangsal, dengan kuda, dengan unta, kotor, panas. Bukan seperti kita, hendak makan buka peti sejuk da boleh kenyang. Hendak tido, katil sampai penuh dengan bantal, selimut, plush toys bagai. Heater blanket. Sleeping bag. Bukak heater lagi. Itu kalau winter. Kalau summer, jangan ceritala tentang kipas dan air-cond.

Mungkin, manusia lain memandang mereka sebagai hamba. Ya, badan mereka hamba! Disuruh bekerja, mereka bekerja. Biar penat, biar lelah, asal kerja siap. Kalau tak, teruk kena belasah. Badan mereka hamba. Tetapi jiwa mereka tidak! Bebas! Bebas bagai burung di langit biru sana!

Dan kita. Kita merdeka. Takde manusia boleh layan kita seperti mana mereka dilayan. Takde manusia boleh paksa kita kerja separuh mati tanpa sesuap makan pon. Takde! Kita rasa kita bebas. Tapi bebaskah kita? Kita tau Allah suruh buat mende tu, tapi, sebab takutkan orang kata apa, kita sanggup tak buat. Sanggup ingkar perintah tuhan kerana takut cercaan makhluk. Bebaskah kita?

Mereka akan bunuh kita ke kalau kita ikut perintah Allah? Mereka akan sebat kita? Akan hempap batu panas? Akan seksa kita? Apa alasan kita di hadapan Allah nanti?

Di Mesir sana. Di Syria sana. Di Palestin sana. Mereka tidak buta. Mereka tidak bebal. Mereka tahu, kena peluru boleh mati. Kena pukul boleh sakit. Tapi kenapa mereka berdegil jugak tunjukkan penentangan mereka? Diam-diam dalam rumah kan lagi selamat? Kenapa mereka sanggup sakit, sanggup mati?

Kerana, mereka tahu, siapa tuhan. Dan mereka tahu, siapa mereka. Mereka hamba Allah. Bukan hamba as-Sisi, bukan hamba Assad, bukan hamba Zionis, bukan juga hamba Hubal, Manat, ‘Uzza, Latta, Che Kiah potpet atau Pak Cik Meon sebelah rumah yang suka mengata.eh.

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya?

Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”

Surah al-Jathiyah ayat 23 [45:23]

Apa yang kita rugi, kalau manusia di seluruh bumi ini menghina kita, tapi Allah memuji-muji kita di hadapan seluruh malaikatNya?

Apa yang kita dapat, kalau manusia di seluruh bumi ini memuji kita, tapi Allah menghina kita, malahan melaknat kita di hadapan seluruh malaikatNya?

Siapa yang hendak kita puaskan?

Hawa nafsu kita?

Orang sekeliling kita?

Atau Allah semata-mata?

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.

Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?

Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?”

Surah at-Tin ayat 4-8 [95:4-8]

Bebasnya manusia itu, bukanlah bila ia tak berada dalam cengkaman penjajah. Bukanla merdeka itu bila tertulis dalam ic mereka warganegara bebas. Bebasnya manusia itu, bila ia tidak hidup untuk makhluk lain, bila tidak bertuhankan selain Allah. Bila manusia itu bebas dari perhambaan sesama makhluk, saat itulah ia merdeka.

Maka, sudah bebaskah kita?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s