Kesempurnaan

Ditulis dengan penuh kasih sayang dan tulus ikhlas oleh penulis anonim.

flower-tree-growing-concrete-pavement-105Seringkali yang kita harapkan dan doakan, adalah bimbingan dan petunjuk yang jelas dari Allah. Dunia yang kelihatannya terlalu mencabar bagi sebatang pohon iman untuk tumbuh dengan subur dan teguh membuatkan jiwa-jiwa yang pernah tersentuh hidayah, terus mengharapkan secebis keimanan itu terus hidup dan mengharum. Sekurang-kurangnya, agar masih mampu meniup semangat untuk pengislahan diri. At least.

Baru sahaja ingin bangkit sekejap cuma, datang ribut taufan melayukan dahan.

Hampir-hampir sahaja tercabut akarnya.

Dipaksakan bertahan, nyaris secebis iman ini terkorban.

Pedih, sakit yang tidak tertahan.

Terkadang nafsu yang mendorong, terkadang biah yang menggoda.

Namun, jelas, bukan itu yang wajar dipersalahkan.

Bukankah telah Allah nukilkan? Kisah agung pemuda kahfi. Buat inspirasi jiwa-jiwa iman yang terbelenggu dalam kebrantakan jahiliyyah. Tauhid yang dipegang, digasak oleh pemerintah yang zalim. Lantas, mereka melarikan diri ke gua lalu berdoa. Doa penuh harap dari seorang hamba kepada Rabb-nya.

(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”.

(18:10)

Mereka memohon agar dikurniakan RAHMAT dan disempunakan PETUNJUK  yang telah Allah berikan. Agar bila sakratul maut menjenguk, mereka tetap dalam keimanan dan tidak berganjak walau sedikit.

Agar secebis iman itu tetap mekar, walau terpaksa bersembunyi dari kezaliman.

Agar tidak terus hanyut dengan hasutan nafsu dan syaitan bila memilih untuk terpisah dari nikmat dunia.

Kerana, kita semua pernah disentuh oleh hidayah. Pintu-pintu hati kita pernah diketuk untuk mengenal Pencipta yang Agung. Namun, yang mencabarnya adalah untuk terus meletakkan hidayah itu pada tempatnya, untuk memastikan hidayah itu terus menetap di hati dalam bentuk nya yang paling sempurna. Boleh jadi, hidayah itu pernah hadir namun disebabkan kelalaian kita untuk menjaga dan memeliharanya, justeru ia terus pergi meninggalkan jiwa. Lalu, kembalilah sang jiwa itu menyukai perkara-perkara yang mendatangkan kemurkaan Allah dan membenci perkara-perkara yang dicintai Allah. Naudzubillah.

Doa pemuda kahfi mengajar kita banyak perkara:

  1. Hidayah itu mahal pada pemeliharaannya dan penjagaannya
  2. Hidayah yang mengetuk jiwa pada hentakan pertama tidak semestinya hadir dalam bentuknya yang paling sempurna.

Kesempurnaan hidayah itu perlu diusahakan. Ia hadir untuk menyedarkan namun jika jiwa itu tidak bermujahadah untuk mengekalkan hidayah, tidak mustahil ia akan hilang. Hidayah akan terus subur dengan tadabbur, tafakkur dan taqarrub ilallah. Ia tidak betah untuk hidup dalam jiwa yang merindui kemaksiatan dan kekufuran. Dan, tidak dinafikan,  doa yang penuh khusyuk dan kesungguhan agar disempurnakan hidayah yang telah Allah berikan merupakan senjata yang utuh bagi seorang mukmin.

Mudah-mudahan.

Semua orang bermula dengan sesuatu, melalui jalan dan cara yang tertentu namun, sungguh kita semua menginginkan yang satu.

Agar kematian kita, kematian yang baik.

Agar pengakhiran kita, pengakhiran yang indah.

Agar akhirnya, kita berjaya menjejakkan kaki di dalam syurga Allah bersama para anbiya’ dan orang-orang yang soleh.

Dan agar hidayah yang kita miliki hari ini, tetap dan terus menerus berada bersama kita setiap saat.

Allahumma ameen.

Jiwa syurga

Bismillahirrahmanirrahim,

lan tasqut

 [Kredit]

 

1230

Saat ini, sudah 1230 jiwa yang terbang pulang ke kampung halaman mereka

Saat ini, jiwa-jiwa itu sedang bergembira dengan nikmat yang Dia sediakan di sana.

Saat mereka di dunia, dunia ini bagaikan neraka buat mereka.

Terkepung, terperangkap, tersekat, serba kekurangan. Serba tidak ada.

 

Rumah-rumah mereka, yang berapa tahun lamanya masa untuk dibina, ranap.

Padahal, rumah-rumah itu bukan sekadar batu dua tiga tingkat bernama ‘rumah’.

Tapi di situ cinta terjalin. Kasih sayang tumbuh mekar. Memori tercipta. Tempat membesar dan dibesarkan.

Satu saat saja, ranap.

Terbayang di mataku, rumahku sendiri.

Di dalamnya ada ayah ibuku, di situ tempat aku belajar masa nak exam dulu-dulu, ruang tamu tempat tengok tivi, dapur tempat masak dan meja makan yang meriah masa raya, bilik adik tempat kami main game masa kecik sikit dulu.

Rumah itu, yang kadangkala menerpa saat kerinduan itu datang;

Terbayang di mataku andai ada satu masa, aku melihatnya hanya tinggal debu dan batu, asap dan abu kelabu. Allah.. kuatnya kalian, hai pemilik jiwa-jiwa syurga!

 

Yang kecil, yang besar, yang tua, yang muda, berserakan tompokan darah di badan kalian.

Berterabur serpihan daging kalian,

Wajah-wajah kalian diselaputi campuran debu dan darah, namun pada wajah-wajah itu juga; tersimpul senyuman.

Senyuman mereka yang mencapai seni kematian paling indah-syahid! Subhanallah!

Aku yang tertinggal ini, betapa aku cemburu dengan kalian!

 

Hai jiwa-jiwa syurga yang telah dahulu mendahuluiku,

Dan jiwa-jiwa syurga yang masih menunggu-nunggu giliran untuk pulang,

Ancaman mereka tidak menggetarkanmu

Kekejaman mereka tidak menggoyahkanmu

Keperitan tidak melunturkan imanmu

Malahan kalian makin kuat bersemangat. Makin teguh. Makin meninggi keinginan bertemu pencipta dengan iman menebal di dada!

Subhanallah!

 

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur.

Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya).

Surah al-Ahzab ayat 23 [33:23]

 

Sang ibu menitis air mata melihat anaknya gugur,

Tapi sang ibu itu juga yang sujud syukur atas sebab yang sama.

“Anakku syahid alhamdulillah!”

“Aku ummu syuhada!”

 

Sang bapa yang merangkul erat tubuh-tubuh kaku anak mereka

Yang mencium apa saja anggota yang masih tertinggal.

Namun sang bapa yang sama mengucapkan ikrar yang padu:

“Aku akan menuntut bela untukmu anakku!”

 

Allahu, sang ibu dan bapa ini. Cahaya mata kalian baru diragut dari kalian.

Tapi apa kata jiwa-jiwa syurga ini?

“Tiada apa yang lebih membahagiakan kami dari anak-anak kami yang terlebih dahulu masuk syurga dari kami.

Dan kami akan menyusul mereka!”

 

Dan si kecil, bagaimana pula dengan si kecil?

Allahu, kalah aku pada jiwa-jiwa syurga dalam tubuh-tubuh kecil itu!

“Ayahku syahid, abangku syahid, kelak akan tiba giliranku!”

 

Wahai jiwa-jiwa syurga sekalian,

Malunya aku membandingkan diriku dengan diri kalian,

Apa rahsia kalian, begitu hebat menanggapi ujian?

(Iaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata

“Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepadaNya lah kami kembali.”

Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Surah al-Baqarah ayat 156-157 [2:156-157]

 

Apa sangatlah ujian-ujianku jika dibandingkan dengan ujian-ujian kalian,

Kalian sudah lama melepasinya,

Aku ini sahaja yang berkali-kali terpaksa mengulanginya.

Apa sangatlah yang terlalu meyesakkan dadaku berbanding dengan kalian

Apa sangatlah yang memberatkanku berbanding kalian

Apa sangatlah.

Apa sangat sajalah.

Jiwa yang menggerakkan tubuh ini, apa layakkah digelar jiwa syurga seperti kalian?

T_T

Wahai jiwa yang tenang!

Kembalilah kepada tuhanmu dengan hati yang redha lagi diredhaiNya.

Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu,

Dan masuklah ke dalam syurgaKu.

Surah al-Fajr ayat 27-30 [89:27-30]

Tunggu aku.

Tunggulah aku di kampung kita itu.

Ya?

Zunnun

Bismillahirrahmanirrahim

Bosan. Penat. Takde harapan. Berseorangan.

Kadangkala, aku juga ditelan perasaan-perasaan ini. Ditambah lagi dengan beban di bahu, yang membuatkan aku rasa hendak lari. Berhenti dan lari dari sini. Persetankan semua, biar aku lari daripada mati kering di sini!

Bila yang diharapkan tak kunjung tiba, tak pernah kunjung tiba, terasa juga hendak putus asa. Harapan yang malap itu, dimarakkan sedikit dengan kata-kata hikmah baru, penguat semangat baru, tapi bila basi, harapan itu padam kembali. Badan ini, tak larat juga menahan penat. Dada ini, sesak juga menahan tangis. Kepala ini sudah sarat dengan kerisauan yang tak pernah hilang, yang tak pernah memberi ruang kepada kelegaan, yang sentiasa menghantui dan menghambat jiwa yang tercungap-cungap ini, saat mata terbuka hingga tertutup kembali di penghujung hari. Ia tak perlukan lagi penambahan. Tentunya; ia menginginkan agar dikurangi muatannya. Tapi apa yang mampu aku buat? Aku terjun ke jalan ini dengan mengetahui risiko-risikonya.

Zunnun. Ya, aku rasakan diri ini seperti Zunnun ketika dia meninggalkan kaumnya dengan marah dan sedih. Kecewa. Jelek. Dia juga sudah penat, malahan lebih penat kerana tentunya, usahanya jauh lebih hebat. Tulang empat keratnya, lebih teruk dikerah; berbanding aku, yang gemuk dengan makanan dan dosa ini. Dia juga penat menahan nangis, dia jauh lebih berseorangan. Seluruh penduduk kampung itu menolaknya, mengejeknya, mempermainkannya; sedang dia tahu dia di pihak yang benar, tapi dia tak berdaya berbuat apa-apa. Maka layaklah, jika Zunnun itu terasa penat. Terasa sesak. Satu insan melawan satu kampung, sedang aku, lahai. Aku ada keluarga pertamaku disini. Walau tanpa pertalian darah, merekalah yang paling aku sayang di dunia ini. Seruanku belum sampai lagi ke setiap pelusuk tempat ini, tapi aku sudah berasa penat, kering tekak konon.

Tatkala Zunnun melarikan diri dan menaiki kapal yang penuh, dia diundi supaya meninggalkan kapal itu. Maka dia terjun, dan ditelan ikan dalam keadaan tercela. Sungguh, andai dia tidak mengingati Allah saat di dalam perut ikan itu, dia akan tetap tinggal dalam ikan tu sampai kiamat, dalam keadaan ia ditelan itu. [1] Ada masanya, aku juga ingin berhenti. Aku juga ingin lari. Ingin berputus harapan. Tapi aku tahu hidup aku bukan setakat itu saja. Aku tahu jalan ini masih panjang, dan ini hanya sebahagian daripada likunya, hanya sebahagian dari durinya, sedikit saja tribulasinya. Jika aku lari, jika aku berhenti, mudah saja Allah hendak menggantikan aku, dengan yang lebih baik lagi dari aku. Maka aku yang rugi, tenggelam dalam air mata putus asa sendiri. Aku yang tertinggal, aku yang tersadung dan tidak bangun-bangun. Aku yang rugi.

Maka, seperti Zunnun, aku juga ingin mengucapkan:

La ilaha illa anta, subhanaka, inni kuntu minazholimin

“Tiada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim”

Surah al-Anbiya’ ayat 87 [21:87]

YA, jika aku lari aku zalim. Jika aku berhenti aku zalim. Zalim kerana tidak meletakkan kefahaman ini pada tempatnya. Untuk digerakkan dan disebarkan. Zalim kerana masih ada mereka-mereka yang tidak tahu, yang belum faham, tapi aku hendak berpaling dari mereka, meninggalkan mereka, dan memilih untuk melayan kepenatanku. Seolah-olah aku menidakkan apa yang aku tahu. Apa yang aku faham. Dan,

“Siapa lagi yang lebih zalim daripada orang yang mengadakan dusta terhadap Allah atau mendustakan yang hak (kebenaran) tatkala yang hak itu datang kepadanya? Bukankah neraka jahannam itu ada tempat bagi orang-orang kafir?”

Surah al-Ankabut ayat 68 [29:68]

Allah tidak menjanjikan jalan ini mudah. Bahkan orang terdahulu diuji dengan bermacam ujian, bermacam musibah, yang menggugah jiwa, sehingga mereka kelaparan, kehilangan harta, kehilangan jiwa, namun  mereka teguh sekali dan berkata

“Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepadaNya lah kami kembali”

Surah al-Baqarah ayat 155-156 [2:155-156]

Semua yang dibumi ini datang dari Allah. Dia yang mencampakkan manusia ke bumi ini, ke tempat mereka hari ini, dan Dia jugalah yang meletakkan mereka di tengah tengah ujian yang mereka hadapi. Tentu sekali, Dia lebih dari sekadar mampu, untuk juga menarik kembali ujian itu setelah hambaNya bersabar dengannya. Dia tidak menjanjikan jalan ini mudah. Tapi Dia menjanjikan pertolongan yang dekat, jika hambaNya bersabar. Nah, maka apa lagi alasanku?

Putus asa itu bukan sifat orang mukmin. Yang berputus asa hanyalah mereka yang tidak percaya dengan rahmat Allah. Yang putus asa hanyalah mereka yang tidak berpegang dengan janji Allah bahawa sungguh pertolonganNya itu dekat. Dan yang putus asa itu, hanyalah mereka yang terlalu malas hendak membayar harga syurga akhirat, lalu berpuas hati dengan syurga dunia.

Dan aku, tidak akan sekali-kali termasuk golongan itu, biiznillah. Kerana aku yakin Allah bersamaku. Allah melihatku. Allah menyaksikan aku.

Maka bangkitlah. Kamu yang juga pernah mengalami apa yang aku alami, kamu  yang merasai apa yang aku rasa, bangkitlah. Jangan tunggu ditelan ikan nun, baru hendak bangun kembali dari tidurmu. Dan ingatlah, Allah sentiasa bersama orang yang berusaha bersungguh-sungguh ke arahNya. Maka jangan sekali-kali kau putus asa.

“Dan orang yang berjihad untuk (mencari keredhaan) Kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.

Dan sesungguhnya, Allah benar-benar bersama orang yang berbuat baik.”

Surah al-Ankabut ayat 69 [29:69]

.

.

[1] Surah as-Saffat ayat 139-144[37:139-144]

longbeach

Kekadang bila lalu tepi laut terfikir “entah-entah kalau aku kat tengah laut ade je ikan paus tassie ni telan aku sebab geram ngan aku” haih.

_ _ _ _ _ _ _

Hanyalah suatu cubaan untuk menjadi seperti pohon kurma. Kerana mukmin itu seperti pohon kurma. Semua bermanfaat. Hatta semasa dia emo pon, biarlah bermanfaat buat ummah. Aman tanpa perang.

*Am okey don’t worry. al waqtu minal ilaj.

Buat insan bernama aku


Bismillahirrahmanirrahim

“ Ya Allah, aku mengadu kepadaMu kelemahan kekuatanku,

sedikitnya kemampuanku dan hinanya aku pada pandangan manusia.

Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih, Kamulah Tuhan Yang Maha Pengasih ,

Kamulah Tuhan golongan yang lemah

Kamu juga Tuhanku.

Kepada siapa Kamu serahkan aku?

Kepada orang jauh yang memandangku dengan wajah yang bengis(benci)

atau kepada musuh yang menguasai urusanku?

Sekirannya Kamu tidak murka kepadaku, aku tidak peduli (apa yang menimpaku).

Namun keselamatan dariMu lebih melapangkan ku.

 Aku berlindung dengan cahaya wajahMu yang menyinari kegelapan serta memperelokkan urusan dunia dan akhirat.

Aku berlindung daripada kemarahanMu atau kemurkaanMu terkena padaku.

Kamu berhak mencela aku sehingga Kamu redha.

Tiada kuasa dan tiada kekuatan melainkan denganMu”

Doa Nabi Muhammad s.a.w ketika baginda dihalau di Taif

Wahai insan!

Andai kamu terluka, ingatla satu masa dulu, dia pernah dilukai kerana apa yang diserukannya. Padahal, yang diserukannya itu kebenaran, kebenaran yang agung. Tiada tuhan selain Allah, Muhammad adalah rasul Allah. Tapi, dia tetap dilukai. Disakiti. Tanpa belas. Kamu, wahai insan! Ape yang kamu serukan? Kebenarankah? Kebaikankah? Jika iya, maka bergembiralah, kamu melalui perkara yang sama seperti jua rasulmu. Jika bukan, mungkin kamu memang patut dilukai dan disakiti, agar kamu kembali ingat padaNya dan padanya.

Wahai insan!

Yang berkeluh kesah tentang kesusahannya! Tentang kerisauannya! Tahukah kamu, Allah itu dekat? Lebih dekat denganmu dari urat lehermu sendiri. Apa yang menghalangmu dari berbicara denganNya? Perlu berbayarkah baru boleh bercakap denganNya? Perlu dikorbankan lembu, kambing seekor dua baru Dia mendengar kamu? Tidak, bukan? Dalam keramaian, dalam kesunyian, Dia ada mendengarkanmu. Maka sujudlah, wahai insan, kembali lah bersujud! Berbicaralah dengan tuhanmu dalam sujudmu; sungguh, tiada saat tuhanmu lebih dekat denganmu lebih dekat daripada waktu itu.

Wahai insan!

Kalau kamu berasa lemah, tahukah kamu Dia itu qawiy, maha kuat? Pelindung kepada semua yang lemah, penyayang dan pengasih terhadap hambaNya? Ya, satu dunia boleh memandangmu dengan kebengisan. Penuh kehinaan. Tapi kalau kamu ada Dia, apa yang kamu perlu takutkan? Ya, ia pedih. Ia sakit. Tapi Dia tau itu semua, wahai insan! Dia tau. Dia tau kamu lemah. Dia tau kamu takkan mampu menanggungnya kalau bukan dengan kekuatan yang Dia pinjamkan kepadamu! Maka bersabarlah wahai insan, bersabarlah! Tak maukah kamu berjumpa semula denganNya di sana sambil tersenyum? Bersabarlah. Allah takkan menyerahkanmu kepada musuh-musuhnya tanpa sebarang bantuan. Bersabarlah! Sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.

Wahai insan!

Kalau kamu berasa kamu jauh dariNya, ingatlah, Dia tak pernah menjauh darimu. Ingatlah, terhadap orang yang bertaubat, Dia lah maha penerima taubat, pengasih dan penyayang terhadap orang yang melakukan kebaikan. Selama mana kamu mengingatNya, Dia akan sentiasa mengingatmu. Tatkala kamu lupa padaNya, Dia masih akan ingat padaMu. Dia akan sentiasa mengirimkan ujian dan nikmat padamu, sampai kamu kembali ingat padaNya. Kembali lah pada tuhanmu, wahai insan. Kembali lah. Sebelum nyawa di kerongkong, takkan pernah terlewat untuk kamu kembali padaNya. Dia sentiasa menunggu kepulanganmu.

Wahai insan!

Percayalah, kesakitanmu, kesusahanmu, kesedihanmu itu, tak akan sekali-kali disia-siakan walau sedikit pon. Ketahuilah, setiap titis air matamu yang tumpah, setiap peluhmu yang mengalir, setiap lukamu: yang telah berparut atau yang masih berdarah; ketahuilah, itu semua akan dibalas dengan sempurna oleh tuhanmu di akhirat kelak. Maka bertahanlah, dan bersabarlah. Satu hari nanti, kamu akan bertemu semula denganNya. Dan moga, kamu menemuiNya sambil tersenyum.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran.

Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah?

Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”

Surah at-Taubah ayat 111 [9:111]

“Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Surah Hud ayat 115 [11:115]

“Inilah balasan untukmu, dan segala usahamu diterima dan diakui (Allah).”

Surah al-Insan ayat 22 [76:22]

Bebaskah?

Bismillahirrahmanirrahim

Pada suatu masa itu, lebih 1400 tahun lalu, seorang wanita, hamba. Diikat di hadapan anak terchenta. Tangan dan kaki ditarik-tarik dan diregangkan jauh-jauh. Disuruh meninggalkan agama barunya. Disuruh menghina tuhannya dengan mengakui,”Allah bukan tuhan! Tetapi Hubal adalah tuhan, atau Manat adalah Tuhan, atau ‘Uzza, atau  Latta adalah tuhan.” Tidak! Sekali-kali tidak! Tiada tuhan selain Allah. Hanya Allah! Maka syahidlah dia, disaksikan anaknya.

Pada suatu masa itu, lebih 1400 tahun lalu, seorang lelaki, hamba. Dikeringkan di tengah padang pasir, di bawah terik. Disebat. Berkali-kali. Dicerca. Berkali-kali. Disuruh meninggalkan agama barunya. Disuruh menghina tuhannya dengan mengakui ada tuhan selainNya. Namun, sekalipon batu panas lagi berat menghempap dada, lidah beliau tak pernah kelu, untuk berkata “Ahad! Ahad!” Tiada tuhan selain Allah. Allahu Ahad!

Pada suatu masa itu, lebih 1400 tahun kemudian. Seorang gadis di tanah yang merdeka, merenung-renung stok pakaiannya. Sudah lama terbeli t-shirt itu, sudah berbulan usia tudung ‘baru’ itu. Namun dirinya tidak sanggup memakainya, walau hatinya meronta-ronta mahu memberikan yang lebih baik untuk tuhannya. Ya, dia tahu pakaiannya tidak sempurna, sebab itu dia membeli t-shirt dan tudung itu, yang lebih labuh dari pakaian biasanya. Tetapi oh! Tak sanggup rasanya, apa yang mereka akan kata, samakah layanan mereka jika tiba-tiba dia berpakaian sebegitu? Ah. Nantilah.  Bam! Pintu almari ditutup. Alangkah! Jika ia mampu berkata-kata, mungkin pedas juga telinga si gadis itu mendengarnya! Alangkah!

_ _ _ _ _ _ _

Ya, mereka hamba! Hamba sahaya. Buat kerja sampai separuh nyawa, tapi tak diberi upah. Diberi makan pon mujur. Tido tidak di katil, tapi mungkin di bangsal, dengan kuda, dengan unta, kotor, panas. Bukan seperti kita, hendak makan buka peti sejuk da boleh kenyang. Hendak tido, katil sampai penuh dengan bantal, selimut, plush toys bagai. Heater blanket. Sleeping bag. Bukak heater lagi. Itu kalau winter. Kalau summer, jangan ceritala tentang kipas dan air-cond.

Mungkin, manusia lain memandang mereka sebagai hamba. Ya, badan mereka hamba! Disuruh bekerja, mereka bekerja. Biar penat, biar lelah, asal kerja siap. Kalau tak, teruk kena belasah. Badan mereka hamba. Tetapi jiwa mereka tidak! Bebas! Bebas bagai burung di langit biru sana!

Dan kita. Kita merdeka. Takde manusia boleh layan kita seperti mana mereka dilayan. Takde manusia boleh paksa kita kerja separuh mati tanpa sesuap makan pon. Takde! Kita rasa kita bebas. Tapi bebaskah kita? Kita tau Allah suruh buat mende tu, tapi, sebab takutkan orang kata apa, kita sanggup tak buat. Sanggup ingkar perintah tuhan kerana takut cercaan makhluk. Bebaskah kita?

Mereka akan bunuh kita ke kalau kita ikut perintah Allah? Mereka akan sebat kita? Akan hempap batu panas? Akan seksa kita? Apa alasan kita di hadapan Allah nanti?

Di Mesir sana. Di Syria sana. Di Palestin sana. Mereka tidak buta. Mereka tidak bebal. Mereka tahu, kena peluru boleh mati. Kena pukul boleh sakit. Tapi kenapa mereka berdegil jugak tunjukkan penentangan mereka? Diam-diam dalam rumah kan lagi selamat? Kenapa mereka sanggup sakit, sanggup mati?

Kerana, mereka tahu, siapa tuhan. Dan mereka tahu, siapa mereka. Mereka hamba Allah. Bukan hamba as-Sisi, bukan hamba Assad, bukan hamba Zionis, bukan juga hamba Hubal, Manat, ‘Uzza, Latta, Che Kiah potpet atau Pak Cik Meon sebelah rumah yang suka mengata.eh.

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya?

Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”

Surah al-Jathiyah ayat 23 [45:23]

Apa yang kita rugi, kalau manusia di seluruh bumi ini menghina kita, tapi Allah memuji-muji kita di hadapan seluruh malaikatNya?

Apa yang kita dapat, kalau manusia di seluruh bumi ini memuji kita, tapi Allah menghina kita, malahan melaknat kita di hadapan seluruh malaikatNya?

Siapa yang hendak kita puaskan?

Hawa nafsu kita?

Orang sekeliling kita?

Atau Allah semata-mata?

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.

Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?

Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?”

Surah at-Tin ayat 4-8 [95:4-8]

Bebasnya manusia itu, bukanlah bila ia tak berada dalam cengkaman penjajah. Bukanla merdeka itu bila tertulis dalam ic mereka warganegara bebas. Bebasnya manusia itu, bila ia tidak hidup untuk makhluk lain, bila tidak bertuhankan selain Allah. Bila manusia itu bebas dari perhambaan sesama makhluk, saat itulah ia merdeka.

Maka, sudah bebaskah kita?

_ _ _ _ _ _ _

da lama tak menulis. rasa beremosi pule. ehe.

aman tanpa perang

(kurang)Sepuluh yang terakhir

Bismillahirrahmanirrahim

Saat orang lain ada yang sudah mula perlahan kayuhannya, dia masih bertahan. Bertahan sangat-sangat. Benda ini bukan mudah untuknya juga. Tapi dia bertahan. Kerana dia tahu, tuhannya sedang melihatnya. Di antara semua hamba-hambaNya, di sini ada dia.

Di sini ada dia yang bersungguh-sungguh melawan kemahuan dirinya-kemahuan dirinya yang teringin benar besenang-senang, teringin benar berehat-rehat, teringin benar hendak kembali pada kerehatan sebulan lalu; setelah kini hampir sebulan dia berpenat lelah.

Lalu kemahuan untuk menyambung tidur lena dilawannya, lalu bersujud dan bertahajudlah dia dalam setiap sepertiga akhir malam-malam yang tersisa itu.

Kemahuan untuk rehat dari membaca quran setelah hampir sebulan rancak berlumba mengkhatamkannya, dilawannya, lalu dibacanya juga sepenuh dan seikhlas hati, walau kini setiap helaian quran itu terasa lebih berat daripada almari tempat letak alquran tersebut.

Kemahuan menyanyikan lagu-lagu raya dek rindunya kepada rumahnya, dilawannya dengan istighfar, tahmid, dan tasbih. Zikir dan selawat tak lekang dari bibirnya walaupon asalnya dia amat sangat susah hendak berzikir seperti itu.

Kerana dia tahu, mungkin saja, ini ramadhan terakhirnya. Kegirangan hampir menghabeskan quran walaupon di masa lain lama benar hendak bergerak semuka surat, ketenangan di siang hari sewaktu dia berpuasa, kemanisan dalam tangisan sujud-sujud tahajudnya; semua itu, mungkin tak sempat lagi untuk dia merasakannya tahun depan.

Maka, walaupon dia sangat amat bimbang yang habesnya bulan pesta ibadah ini, dia akan kembali seperti dia yang dahulu: yang malas menghadap tuhannya, yang culas membaca surat chenta tuhannya,

walaupon dia sangat amat risau yang dia tak mampu untuk istiqamah dengan amal-amal baru yang dimulainya ramadhan tahun ini,

dia gagahi jua sisa-sisa terakhir ramadhan tahun ini.

Kerana, dia juga sangat-sangat ingin, satu hari nanti, untuk masuk dari pintu ar-rayyan. Dan di situ, tuhannya yang sedang melihatnya itu, tuhannya yang sedang menghitung setiap perjuangannya melawan kemahuannya itu, akan berkata kepada para malaikat yang siang malam bertasbih kepadaNya:

“Lihatlah hambaku itu. Dia masuk ke bulan ramadhan lalu bersungguh-sungguh beribadah kepadaKu. Walaupon Aku dah uji dia dengan macam-macam kemahuan yang sangat ingin dia penuhi, tapi dia gagahi semuanya, untuk Aku. Walaupon Aku uji dia dengan keraguan-keraguan yang menggugah semangatnya, dia tetap juga menghadap Aku, meminta agar setiap ramadhannya lebih baik daripada sebelumnya. Lihatlah dia. Itulah dia hambaKu.”

Nanges

_ _ _ _ _ _ _ _ _

Benar, kita tak tahu, adekah kita akan bertemu lagi ramadhan tahun depan. Kita juge tak tahu, mampukah kita untuk istiqamah dengan ibadah-ibadah yang beria benar kita buat sekarang ni. Tapi tak cuba, kita takkan tahu.

Teruskanlah perjuanganmu.. Allah itu maha penyayang, dan maha lembut terhadap hamba-hambaNya 🙂

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”

Surah al-Ankabut ayat 69 [29:69]

Selamat mengisi hari-hari terakhir ramadhan dengan amal-amal yang dichentaiNya 🙂

life_is_like_a_race_by_snukki-d5hgms6

[Kredit]

Ramadhan da nak abes. Apa khabar hubungan kita dengan Allah? Amal ibadah pula amacam?

Ayat menusuk di petang hari

Sunset_Alone_by_ibadurrahman

[Kredit]

Bismillahirrahmanirrahim

Dan (ingatlah), semasa orang-orang kafir didedahkan kepada neraka (serta dikatakan kepada mereka):

“Kamu telah habiskan nikmat-nikmat kesenangan kamu dalam kehidupan dunia kamu, dan kamu telah bersenang-senang menikmatinya;

maka pada hari ini kamu dibalas dengan azab yang menghina

kerana kamu berlaku sombong takbur di muka bumi dengan tidak berdasarkan alasan yang benar, dan kerana kamu sentiasa berlaku fasik”

Surah al-Ahqaf ayat 20 [46:20]

Telan air liur.

Eh, kenapa nak telan air liur, kan untuk orang kafir? Kita as muslims tak yah la terasa sangat, amek pengajaran supaya tak jadi camtu dah la.

=)

Kafir tu..bukanlah bermaksud non-muslims. Tapi maksudnye, ialah orang yang tak mahu beriman-disbelievers. Kalau kita tengok, kat mesia ni, kita panggil semua non-muslims kafir. Tapi sebenarnye, ada di antara diorang tu, bukanla sengaja untuk tak masuk islam. Diorang cuma tidak dilahirkan muslim macam kita. Lalu besar sebagai orang bukan islam..tapi, manalah tau, sebenarnya, kalau diorang ni diberitahu dengan sebetul-betulnya pasal islam, diorang terbukak hati untuk islam. Kafir tu, ialah  ingkar; tahu kena buat, tapi tak mau buat. Kita ni yang muslim ni pon, ada masanye, ade ketikanye, kita tau je, ade benda tu memang kita kena buat, malahan wajib buat, tapi kita tak buat. Tak nak buat. Kita rasa macam “So what? Nanti taubatla. Allah kan maha penerima taubat”

Bayangkan..time akhirat nanti Allah cakap kat kita macam ni.

Segala nikmat yang Aku bagi; masa kamu, mata kamu, badan kamu, duit kamu yang berkepuk-kepuk kat bank tu, otak kamu yang bergeliga dapat scholar dengan mara jpa bagai tu; kamu guna untuk enjoy. Kamu lupa kat Aku. Kau tak guna untuk ingat Aku. Jadi sekarang amek kau neraka, padan muka!

Allahuakbar…

Kita ni, baaaaaanyak sangat nikmat yang Allah bagi. Setiap hari, setiap saat, ade je nikmat Allah yang kita guna, dan dapat. Bernafas tak yah fikir, secara unconscious badan kita boleh bernafas. Lapar ada makanan, dahaga ada air. Mata cukup, boleh melihat, nampak warna-warni..Kita ada hati yang mampu menyukai kecantikan, hati yang mampu sayang kat orang, yang boleh rasa sedih, gumbira, tak macam binatang atau tumbuhan..takde hati perasaan yang sama sebijik cam kita.

Cuba bayangkan pulak, kita ni orang kaya multibillionaire. Kita taja sorang budak ni pegi belajar kat ostrolia buat biotek. Bagi dia duit, belikan dia baju, belikan dia buku; ape yang dia perlu, kita bagi. Yang dia tak perlu tapi dia nak, macam henpon pintar dan laptop baru, kita bagi jugak. Kita hantar dia, kita pesan kat dia “belajar elok-elok ye, nanti balik bawak degree n honours.” Tiba-tiba dah habes tiga tahun tempoh buat degree kita dapat tau yang dia selama tiga tahun tu asyik melancong shoppping sana sini habeskan duit dan asyik fail exam, esainmen tak hantar. Degree ke mana honours ke mana. Ape yang kita rasa time tu?

Tipu kalau kata tak rasa marah langsung.

Tipu kalau kata kita rasa alaaa, nak buat cemana, budak tu memang camtu. Maafkan jela..

Mesti ada sikit rasa marah. Dan kecewa. Sampai hati dia buat kat kita camtu?

Balik pada ayat tadi.

Sampai hati kita nak bersenang lenang je kat dunia ni? Guna nikmat yang Allah bagi untuk menderhaka pada Allah? Badan ni, Allah yang bagi. Tapi dengan badan yang sama, kita buat maksiat pada Allah. Buat jahat. Buat benda sia-sia.

Lepas tu kita buat sombong. Sombong nak balik pada Allah. Sombong nak mintak maaf kat Allah sebab dah buat apa yang Dia tak bagi buat. Dia hantar orang atau kejadian nak ingatkan kita, menerusi macam-macam cara, be it kawan kita ke mak kita ke hatta rancangan 30 minit ustaz don sekalipon, tapi kita tak nak jugak terima yang kita sebenarnye tengah buat salah. Kita rasa kita bagus. Kita rasa, aku ada masa lagi nak bertaubat. Terus jugak nak buat ape kita suka. Seolah-olah, kita lebih tau bila kita mati. Seolah-olah, kita dapat jamin yang kat akhirat nanti kita masuk syurga.

Lupa tujuan kita hidup untuk apa. Nak enjoy ikut nafsu suka hati je.

Bukanla tak boleh guna nikmat Allah untuk kesenangan. Badan kita pon, ada hak ke atas kita. Nak jugak rehat-rehat. Ada rasa nak makan sedap. Ada rasa nak berseronok. Yang jadi salah bila kita asyik sangat dengan nikmat tu sampai berseronok dan bersenang tu jadi main focus kita. Kata nak rehat kejap lepas penat kerja. Pegi la tengok tv. Last-last tengok tv sampai berjam-jam sampai tinggal solat, mak panggil kita marah kat mak. Camtu la

Kita ni siapa je..hamba Allah bukan?

Hamba tu, bila tuan dia kata camtu, camtu la dia kena buat. Dan Allah tak pernah menyusahkan kita. Bila kita salah, Allah tak hantar petir untuk terus sambar kita. Takde tiba-tiba kita tengah buat dosa kita terbenam dalam tanah. Allah sentiasa bagi kita peluang. Sampaila nyawa kita kat kerongkong, barula takde second chance dah. Tapi..kita tak tau bila masanye kan?

Segala yang ada di muka bumi itu akan binasa.

Dan akan kekallah Zat Tuhanmu yang mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan.

Maka yang mana satu di antara nikmat-nikmat Tuhan kamu, yang kamu hendak dustakan?

Surah ar-Rahman ayat 26-28 [55:26-28]

—–

*baru balik lepas lebih seminggu berkampung dengan sisters terchenta 🙂 semoga Allah membalas kebaikan kamu semua atas tunjuk ajar yang diberikan 🙂